Siang itu, saya baru saja keluar dari ruang kuliah. Sambil melirik jarum jam di tangan kiri, tiba-tiba hasrat minum kopi timbul. Segera saya berjalan menuju Tim Hortons di kantin kampus, lalu antri menunggu giliran sambil sekali-kali melihat aneka makanan lain di ruang itu. Ketika tibanya giliran saya memesan, terpampang secarik kertas yang ditempel dengan tulisan “Save 20 cent, bring your own mug, save the environment and save a penny.” Tulisan itu mengisyaratkan, saat membeli minuman, bawalah cangkir atau mangkok sendiri. Himbauan ini bukan hanya menghemat uang kita 20 cent ketika membayar, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Bulan lalu, 22 April 2009, dunia memperingati hari bumi yang pertama kali dipelopori 39 tahun lalu oleh Gaylord Anton Nelson di Amerika Serikat. Banyak negara, lembaga, dan institusi pendidikan merayakan hari itu dengan dengan beragam benetuk. Mulai dari kampanye lingkungan, menanam pohon, sampai himbauan mematikan lampu selama satu jam. Di Kanada sendiri, kampanye penyelamatan lingkungan juga menjadi isu sentral yang selalu menjadi perhatian utama negara dan masyarakatnya.
Berbagai tema dan slogan untuk mencintai alam dikemas dengan sebaik dan semenarik mungkin, seperti Go Green, Save the Planet, and Plan a Tree. Bukan hanya itu, lembaga-lembaga pendidikan yang berbasis lingkungan juga berdiri, dari tingkat kanak-kanak sampai dewasa. Seperti ecokids yang mengembangkan pendidikan sekolah anak berbasis lingkungan. Di tengah-tengah masyarakat Kanada juga memiliki aturan membuang sampah, dengan memisahkan sampah yang organic, non organic, dan sampah yang recycle. Fenomena ini telah menjadi budaya tersendiri bagi masyarakat Kanada, apalagi diperkuat dengan aturan yang ketat, dikontrol dan diawasi bersama-sama oleh masyarakat dan pemerintah. Membawa gelas ke kampus, merupakan contoh kecil bagaimana mencintai alam dengan secangkir kopi. Bagaimana dengan lingkungan anda saat ini?
